
Banda Aceh-Uni Eropa yang telah bekerja untuk proses perdamaian Aceh segera mengakhiri programnya pada Juni mendatang. UE masih masih menjalin hubungan dengan pemerintah Aceh.
Head of Office Europe House Aceh, Geovani Serritella kepada The Globe Journal, Rabu (23/5) mengatakan bahwa ada tiga hal yang akan menandai hubungan UE dengan Aceh pada masa datang.
"Akan fokus mendukung masalah hutan dan perubahan iklim di Aceh. Uni Eropa akan melanjutkan praktik kehutanan," ujarnya.
Dia menjelaskan pihak UE bekerjasama dengan seluruh pemegang kekuasaan di Aceh. Hal tersebut dilakukan untuk bantu menyimbangkan proses pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Selain itu, Serritella menjelaskan bahwa dunia dapat menarik pelajaran dari Aceh tentang perdamaian itu dibuat dan dipertahankan.
"Keterlibatan semua pihak di dalamnya, kepemimpinan politik yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia dan keterbukaan untuk dukungan internasional serta mobilisasi yang nyata untuk menduking perdamaian Aceh," jelasnya.
Menurutnya semua faktor yang telah disebutkan di atas tadi sangat menarik untuk dipelajari dari pengalan Aceh.
Ketiga, Selain menarik dari segi politik, sosial, dan pembangunan ekonomi di provinsi Aceh menawarkan contoh yang baik dari desentalisasi kekuasaan yang komplek dari otonomi khusus. [003]
